Duluuu sekali aku punya target menikah di usia 21 tahun, tepat setelah aku lulus kuliah, pikirku. Lalu Allah betul-betul uji dengan tawaran komitmen di tahun-tahun itu. But it’s just not the right time and turns out, he’s not the right one. Dan tahu tidak, ternyata aku lulus kuliah di usia 22 tahun, HUAHAHAHA.

Lalu hidup mengalir seperti air hingga sudah 3 bulan ini aku menginjak usia 25 tahun. YA BUKAN KENAPA-KENAPA SIH. It’s really OK. Sewajarnya wanita usia 25 tahun, udah ‘agak’ dewasa lah yha, mikirnya, “Kalo jodoh ga kemana…



… Tapi dimana…”

Heheh chandha. BETULAN CANDA INI. Biar agak lucu. Plot twist gitu loh. Hee garynk ente.


Dahlah, ngga ngerti juga kenapa setelah sekian lama ga nulis disini malah memilih nulis yang seperti ini daripada tumpukan draft di notes henfon… He… Henfon yang mana ya… Terhitung 6 bulan ini di rumah kok kayanya aku ga perna nulis ya. Bisa gitu ya.

Dahlah. Suka-suka aku lah ya. Buat absen aja. Gada yang baca ini. Semoga.


- Blambangan, 19 Maret 2021 01.53

Hari ini banyaaak sekali harapan yang kudengar, kuterima dan kulontarkan balik. Lebih banyak dari hari biasanya. Banyak do'a. Banyak aamiin. Dan do'a orang yang dalam perjalanan, katanya termasuk do'a yang cepat diijabah. Aamiin

Indeed, we all know who is the best of all planners. Surely, only You, ony You.

- Blambangan, 13 Sept 2020 20:53

Pemikiran yg terlalu kulit untuk hal seserius itu, katanya.

Apakah memang keinginanku lanjut sekolah hanya untuk mengejar prestige saja? Hal ini sempat kupikirkan beberapa kali, dan jawabannya tidak. Bisa khaan orang sekola pasca hanya karena dia ingin? Ingin belajar lebih fokus pada bidang tertentu langsung dari ahlinya? Ingin lebih terbuka pikirannya dan memilih lewat sekolah pasca? I mean, beberapa orang bisa terbuka pikirannya lewat mana saja, manapun.

Tapi, bisa kan…kita memilih agar ‘lebih’ terisi dan terbuka pikirannya lewat jalan pasca? Why…not… Memilih untuk lanjut bersekolah pasca tidak harus demi karir, kan?

Apaka ku sedi?

Tida. Sunggu tida. No its not denial.

Tapi jadi lebi kebuka aja mataku dan jadi lebi berkerut-kerut keningku. Bahwa beberapa hal yang dulu kuanggap “bisalah yang ini 'sekedar’ aja” ternyata harus dipikirkan 1000x.

Meeting her was fate, yes, i think so.

Sooo, alhamdulillah, for today.


- Buitenzorg, 20 Juni 2020 1:12

There are wounds we learn to live with

Seas of sorrow we learn to swim

There are dreams we learn to bury

And death that teach us to rise again

(source: tiktok☺️)


Usia 20+ dan sedang di persimpangan itu wajar. Tapi jangan lama-lama, ceunah.

Kenali betul keinginan dan kapasitas diri, fokus memperbaiki dan mengembangkan, tetapkan rencana hidup but jangan lupa ada Allah, Al Baari, Al ‘Alim.

Terus merencanakan dan terus tawadhu’. Berpegang; yang penting, diri sendiri yang hari ini lebih baik dari kemarin.

Bismillah, welcome Dzulhijjah.


- Buitenzorg, 20 Juli 00.43

Sekarang bukan lagi tentang w yg kehilangan lau, atau lau yg kehilangan w. Ga akan ada habisnya.

Pun tentang w yang tidak baik, atau lau yang tidak baik. Bukaann.

Baik itu relatif. Yha khaan??? Hm, bahasan lain ni tzuy.

Sekarang mikirnya, mungkin kita ada memang bukan untuk satu sama lain, alias yhaaa memang tida jodoh saja, sih. Kamu…baik, tapi bukan untukku. Pun aku.

Bukan dalam rangka memuji diri sendiri, ‘aku baik’, ni, yhaa!

Wkakakakakakaka dah dah.

Damai, ya. Betulan, lho. Dari aku untuk aku. Yang sedang berusaha rasional, sedari dulu.

Trimakasiii to the one&only, TMMnTMG, Allah, yang telah tambahkan satu orang lagi di hidup aku yg cuwpuw ini, as a lesson.

Me forever grateful! Xixixixi

- Batavia, 11 Juli 2020 05.50

andromedanisa:

“Allaah tak pernah memilih waktu untuk mendengar.”

— manusia sering memilih waktu untuk berdoa.

Aduh

Makan Sendiri

Umiku seriiing sekali bilang gini, “Mesti wes telpone pas maem. Kamu emang baru maem apa maem terus, se, dek?”.wqwq Nda cuma Umi, Mba pun. Abah juga…duluuu.

Jadwal wajib video call ku bersama keluarga memang malam hari. Di luar waktu itu, telfon sesempatnya aza. Dan tiap malam hari ini, entah mengapa tiap kali ku sedang makan(?) Bener-bener yang hampir selaluwwh.

Aku memang seringkali menunda makan malam…karena mager. Berujung makan malam jam 8 lebi😐 Tapi entahlha ngapa telponnya nga pas tidur-tiduran mager sepulang kerjha, thu, yha. Atau ada saat-saat aku laper banget sepulang kerza, jadi tida menunda makan malam, makan lahap setelah maghriban. Trus telponannya pas abis makan, gitu, misalnya. Tapi nggaaa, aku telponannya yha habis maghriban tu sambil makan… Ntahlah. Ku tak tau juga kenapa… Sampai akhirnya harus karantina dan bekerja dari ruma alias kosan…

Ternyataaa aku butuh suasana agak ‘ramai’ gituu saat makan! Harus ada interaksi di sekelilingkuw wqwq Bukan yang makan sambil ngobrol gituuu, tapi hm mungkin lebi ke percakapan satu arah. Ada yg berbicara padaku dan aku akan lebih banyak mendengarkan sambil makan. Atau, aku yang bisa saja makan sendirian di mall atau foodcourt, sambil meratiin orang sekitar atau yang berlalu lalang, itu cukup.

Hal ini baru kusadari saat wfh, saat aku jadi punya waktu lebiii banyak untuk mendengarkan podcast. Waktuku memutar podcast tuh antara pagi bangeddd habis subuh, atau sambil masak, atau yang paling sering; sambil makan… Kek tergerak aja gituu muter podcast kalau nda ada yg bisa ‘kuhadapi’ saat makan. Kek gabisa aja gitu makan cuma lihatin makanan, piring, kasur, bantal, jejeran buku, dan dinding juga lantai. Kek setelah dapet ide makan apa, selalu mikirnya mau sambil ngapain. Yhaaa pilihannya cuma 2 si; telepon Umi atau “Dengerin podcast apa yacchh?” wqwq atau saat ada janji telfon dengan teman, pasti aku jabanin sambil makan! Karena kalo temanku udah di fase butuh telfon, pasti akan banyak porsi dia yang bercerita, jadi yhaaa byzalha ku sambil makan wqwq

Kenapa ga sambil nongton ajasi??? Aku tida mudah menikmati film, apalagi kl dipaksain nontonnya. Tapi kalo udah enjoy sama alurnya, malah harus fokus ke filmnya… Tida bisa sesekali pake mata atau telinga saja, harus kolaborasi penuh antara keduanya. Hmm, aku gamau menelantarkan makananqu. Nanti jd berkurang gitu, nikmat makannya, kurasa. Mweheheh

Sejujurnya, seringkali sambil mikir 2 opsi yg akan kupili tuq menemaniku makan, seringkali juga tercetus, “Ga berkualitas bgt, proses makan lo, Ca. Terdistrak nanggepin orang di telpon atau sambil mikir dengerin podcast.” Yhaaa, tapi jadi niqmad justru karena hal-hal ‘pendistrak’ yang kuanggap krusial itchuuwh. Wkekekek~

Ya gitu aja si ceritanya. Belom nangkep utuh 'sumthin'nya. Cuma nambah list tentang mengenal diri sendiri ajhaaa~wqwq. Hm, jadi relate juga kenapa selama ini aku lebi suka makan siang di pantry daripada di meja kerja, seriweuh apapun hari itu. Berbeza sangat dengan teman projekanku, yang cenderung suka makan di meja kerza. Sqian

- Buitenzorg, 3 Juli 2020 12.30

Kalau-kalau kita se-la-lu ingat, bahwa setiap manusya itu sedang berproses, entah menuju kedewasaan atau hal lainnya, mungkin kita jadi tida mudah menjudge antar manusya, sesama hamba.

- Buitenzorg, 4 Juli 2020 23.30

Mau kemana lagi?

Lalu aku teringat bahwa aku paham betul kalimat ‘ridho Allah, ridho orang tua’.

Dan kita dianugerahi kemampuan untuk memahami makna yang tersirat di dalam sebuah ucapan.

Jangan terlalu jauh membiarkan ego menguasai diri, membuat kita menulikan diri dari sesuatu yang jelas-jelas kita dengar langsung dan kita pahami maksudnya.

Luruskan niat lillahi ta'ala, kembali ke kalimat pertama. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mari ditunaikan.

Semoga Allah selalu lembutkan hati ini. Aamiin

Dah gitu aja. Buat diri sendiri.

- Buitenzorg, 22 Juni 2020 00.15


Indy Theme by Safe As Milk